Selasa, 07 Maret 2017

KUNJUNGAN PARA SAHABAT




HUNIANKU tiba-tiba meriah. Denni yang khusus menurunkan gitar dari mobilnya, langsung membawakan nomor lawas, "Let it Be Me". Kami semua mengikuti walau dengan suara sayup-sayup.

"Lho... bisa gitu lho," protes Denni yang sejak awal mengajak nyanyi, sementara dia yang memetik gitar.

Maka lagu kedua, "The End of The World", dinyanyikan bersama. Henny Mario dan istriku duet menemani si pemetik gitar. Sementara aku dan Emmy sibuk dengan kamera. Maklum... ngga bisa nyanyi.

Ada acara khususkah? Ah...tidak. Sahabat-sahabatku ini sengaja datang untuk membesukku. Sekaligus menghiburku. Konon suka ria demikian bisa memberi semangat, dan semangat itu baik untuk pemulihan kesehatanku.

Sayang salah satu di antara kami, Lina --yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Emmy-- tidak bisa bergabung. Masih ada hari esok untuk ngopi-ngopi kan...

Thank you guys, kalian membuat siang di rumahku semarak. Silaturahim yang sangat bermanfaat. Sesuatu banget bagi kami. (07:03:2017)




Keterangan foto: Karena tidak ada orang lain di rumah, maka terpaksa selfie. Untung semuanya muat dalam satu frame...



Sabtu, 04 Maret 2017

KETIKA STAMINA DI TITIK TERENDAH



DENGAN perasaan bersalah saya datang ke tempat praktek dokter karena seharusnya dua hari yang lalu sudah harus bertemu. Pada harinya (Senin) saya tidak bisa berangkat karena letih sekali dan istri rapat sampai magrib. Hari berikutnya saya siap tapi istri dinas luar kota sampai malam hari.

Pada saat berjalan menuju lobi, surat pengantar saya berikan ke istri agar nanti dialah yang mengurus. Ketika menerima dan membaca sambil berjalan, istri saya katakan, "Kita justru on time! Surat ini menunjukkan kita harus ke prakteknya hari ini! Bukan dua hari yang lalu!

Alhamdulillah. Sayangnya di ranjang praktek aku terkejut saat suster memeriksa tensiku yang ternyata melemah, 100 - 60! Toh dokter tetap memberiku semangat sambil ia mengambil alih pemeriksaan.

Rupanya ia sangat terkesan dengan progres penyembuhanku. "Good!" ucapnya berulang kali. Menurut istriku, wajah Prof Isnu Pradjoko optimistis banget. Tidak seperti pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya, yang di keningnya selalu muncul guratan.

"Perkembangan apa, Prof?" tanyaku penuh ingin tahu. "Mesin diesel di dalam sini sudah padam," jawabnya sambil menuding dadaku. Dan aku baru tersadar, memang tak ada gemuruh pada saat aku bernafas, seperti saat parah-parahnya dulu. Nafaskupun terasa lebih ringan dan panjang.

Mengapa ia menyebutnya dengan "mesin diesel?" Dokter ini memang punya selera unik. Sewaktu menjelaskan kasusku di awal pemeriksaan, dia membeber foto torax dan hasil CT-scan. "Ini lho 'terorisnya', kami harus memerangi mereka," ujarnya sambil menunjuk noda putih di materi yang di beber di depan lampu.

Ketika istriku minta izin mengajak aku ikut ke Jakarta --padahal sebelumnya tanpa setahu dokter kami sudah pergi  ke Bali dan Depok-- Prof. Isnu menatap kami sambil berkata, "Lanjutkan..." Kami terkesima sesaat tak mengerti arah pembicaraan. "Lanjutkan ke Jeddah..." ujarnya kemudian...

Amin ya rabbal alamin... ujarku lega. Rupanya Prof Isnu ingat, gara-gara penyakitku kali ini, aku batal umroh awal Januari yang lalu. Dokter yang bersahaja ini memang penuh humor dan sering tindakannya tak tertebak.

Sepulang dari tempat praktek dokter, aku seolah mendapat semangat baru. Benar nafasku makin panjang. Benar pula tidak ada suara berisik di dadaku. Kalau ada sedikit keluhan, batuk-batuk kecil yang tadi dokter memberikan ramuan obat untuk mengatasinya.

Esok harinya, aku beranikan diri pergi bersama Ali Salim, sohiebku. Kita ngopi-ngopi dulu, baru late-lunch. Ada banyak hal yang kita bicarakan setelah cukup lama tidak berjumpa.

Ia punya saran mengambil second opinion di Singapura jika pengobatan di sini tidak berhasil. Jauh-jauh hari aku malah sudah punya pikiran pergi ke Malaka seperti tawaran dari besanku. Tapi aku masih percaya dengan tindakan Prof. Isnu Pradjoko.

Kami ngopi di Toffee Coffee, setelah itu pindah ke resto Pawon Cabe yang jaraknya sekitar empat kilometer. Menurut Ali Salim, aku lebih banyak berbicara saat di Toffee Coffee. Sementara menurut aku, dalam perjalanan pulang justru banyak berdiam diri. Staminaku nyaris habis hehehe...

Dan malam harinya aku merenung. Hampir empat jam kita jumpa dan ngobrol. Ini "prestasi" tersendiri bagiku, setidaknya dalam sebulan terakhir --yang aku mudah lelah, drop, bahkan harus berobat ke dokter dan opname.

Mengapa bisa terjadi? Benar sabda Rasulullah, silaturahim menambah usia. Semangat bertemu itulah yang menimbulkan gairah. Seolah aku tidak sedang dalam proses penyembuhan. Seolah seperti hari-hari kita biasa bertemu.

Aku bisa katakan demikian karena aku pada posisi stamina sangat rendah sekali. Sehingga lebih peka menghadapi perubahan, dibandingkan mereka yang punya stamina berlebih.

Dan aku yakin, itu semua berkat SILATURAHIM seperti sabda Kanjeng Nabi, "Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dan diperpanjang umurnya, hendaknya dia menyambung silaturahim (HR Bukhori).

Subhanallah. Maha Besar Engkau ya Allah. (*)

Rabu, 01 Maret 2017

KETIKA HATI MERINDU



AKU lihat mama dari kejauhan. Ia mengenakan rok terusan fit-body warna biru tua. Serasi sekali dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Ia sedang sibuk dengan seorang gadis, yang mungkin asistennya.

Tiba-tiba aku rindu kepadanya. Aku perhatikan, ia tidak melihatku malam itu. Mungkin cahaya tidak cukup terang di teras depan rumah kita di Jl. Raya Ketabang. Agak lama aku termenung melihat kesibukan mama. Aslinya, aku tak ingin mengganggunya.

Namun tak kuat hati ini. Tiba-tiba rasa yang rindu sekali tak terbendung. Aku melangkah ke arahnya, dan ia agak terkejut melihat kedatanganku. Ia berdiri sambil memegang movie camera yang sedari tadi dipegangnya.

"Mom... hugh me, please...," ujarku perlahan. Aku duluan yang merangkulnya, kemudian mama merangkulku erat. Erat sekali. Sangat terasa rangkulan itu, dan sangat berarti bagi aku...

Aku terguncang dan menangis sesenggukan... Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah... Demikian nyata mimpiku sebelum aku shalat subuh pagi tadi. Akupun membaca Al Fatihah untuk beliau, ibuku... (*)

Selasa, 07 Februari 2017

TERSENYUMLAH..., BERIKAN SEDEKAHMU



SEJAK Agustus tahun lalu, empat kali sudah aku opname. Pada opname pertama, aku melarang istri memberitahu siapapun, kecuali saudara.

Berdasar opname yang dulu-dulu, aku justru banyak terganggu karena tidak bisa istirahat. Tapi toh opname bulan Agustus itu, banyak pula teman yang membesuk.

Ada yang datang sendiri, berdua, berlima, bahkan rombongan yang pulang arisan, 15-an orang. Wadeuw... ya senyum sajalah walau aku benar-benar ngga bisa ngaso tenang.

Pantes di zaman lampau, suster sangat ketat melarang besuk di luar jam kunjungan yang dibatasi dua jam.

Kalau tahu aku sudah kecapaian, istriku selalu menghibur sambil membelai rambutku. Ia teman setia yang selalu mendampingiku.

Benarkah tindakanku melarang mereka besuk? Suatu ketika aku baca, mengunjungi orang sakit adalah sunnah bagi seorang musim, dan pahala ganjarannya.

Duh... berarti selama ini aku mengganjal niat baik mereka. Astagfirullah... Maka saat opname kali kedua, aku membiarkan teman-teman tahu.

Mereka mau mengunjungi, monggo. Mau kirim doa lewat WhatsApp ya silakan. Tidak merespon apa-apa, ya ngga apa-apa.

Demikian pula opname-opname selanjutnya, termasuk yang kelima pada hari-hari ini. Makin banyak yang mendoakan, Alhamdulillah. Aku tak merasakan capainya karena dengan senyuman semuanya menjadi nyaman.

Yang ingin aku ceritakan, terakhir ini aku berhubungan dekat dengan DR. Aqua Dwipayana, yang justru melakukan silaturahmi mendatangi teman-temannya, orangtua temannya, teman-teman orangtuanya.

Doktor komunikasi lulusan Universitas Pajajaran ini justru menganggap silaturahmi suatu kebutuhan. Bahkan ia membuat buku berjudul "The Power of Silaturahmi" yang sudah cetak 100 ribu eksemplar.

Hasil penjualannya diberikan untuk amal, bahkan memberangkatkan umroh bagi 30-an orang yang dianggap sangat mendambakan Tanah Suci. Ada marbot, seniornya, janda dari gurunya, dan macam pribadi baik yang ia kenal maupun tidak.

Kalau sekarang ia mendedikasikan 85% kehidupannya untuk silaturahmi dan sosial, mengapa dulu aku harus menutup pintu silaturahmi kala opname? Maka aku bersyukur segera menyadari kekeliruanku. Astagfirullah.

Dan bukan ketika opname saja aku buka pintu silaturahmi. Ternyata sudah sejak lama aku lakukan silaturahmi seperti Aqua Dwipayana, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Aku datangi teman-teman senior yang jauh di atas usiaku, teman berhaji dulu di tahun 1996, bahkan jauh-jauh ke Samarinda untuk bertemu keluarga-keluarga yang pernah dekat denganku.

Memang tidak seintens Aqua yang usianya jauh di bawahku, yang tentunya masih trengginas dan penuh semangat.

Namun yang aku selalu senang lakukan setiap bepergian, adalah menyapa siapapun yang bersisipan denganku melalui senyum yang ikhlas.

Selalu aku lakukan baik kepada yang aku kenal maupun tidak, dan hampir semuanya merespon dengan senyuman pula. Tak ada yang menganggap senyumanku nakal, kurang ajar. Subhanallah.

Ketika aku membukakan pintu, dan ternyata di belakangku ada orang yang juga akan lewat, aku tahan pintu sambil mempersilahkan mereka lewat duluan.

Umumnya mereka berterima kasih, paling tidak mengangguk sambil tersenyum. Bahkan anak-anak dengan terbuka mengatakan, "Makacih Om..."

Suatu ketika aku memotivasi temanku untuk sedekah senyuman. Awalnya ia tertawa. Tapi karena ia nyaman melihat orang membalas senyumanku, diam-diam ia ikutan.  Apa yang terjadi?

Bukan dapat balasan senyuman, malah plengosan. Gara-garanya, ia mengucapkan sesuatu yang mungkin kurang berkenan pada yang bersangkutan.

Tidak mengapa.... Anggap itu pelajaran. Senyuman yang ikhlas akan menghasilkan balasan yang ikhlas pula, itu yang aku nasihatkan kepadanya.

Nah... meminjam istilah Aqua Dwipayana, aku lebih pas dengan sebutan "The Power of Senyuman". Dengan keikhlasan, dan semuanya dilakukan lilahi ta Allah, insya Allah hidup ini terasa nyaman.

Senyumlah demi sedekah, Anda akan menikmati sensasinya. (*)

Minggu, 22 Januari 2017

INTERMEZO: PASSWORD

CAFE Seven lagi rame siang itu.
 Jhon, si Joni tuh, lagi cari-cari pelayan untuk tanya password wi-fi. Ngga sabar iapun berdiri menuju kasir.
+ Mbak. Password-nya apa?
- Tanya teman saya (kata si mbak tanpa menoleh karena ia masih sibuk layani pelanggan).

Joni kembali ke tempat duduk sambil ngomel, 'ketus amat!'. Ketika ia sisipan ama pelayan, kembali ia tanya, "Mbak... password-nya apa?"

- Tanya teman saya (kata si pelayan sambil bergegas mengantar pesanan).

Duh! Joni masih bisa sabar. Tapi ketika ia duduk dan pesanan datang, Ia berteriak kencang: Hoi... Teman kamu yang mana? Aku sudah tanya dua teman kamu, dan kamu ini orang yang ketiga!

Si pelayan kaget dan bingung. Untung ada gadis centil duduk deket meja si Joni.

- Sttt... Coba om tulis di kolom password, "Tanya teman saya". Digandeng semua ya Om...
Tulisannya yang digandeng, bukan teman-teman Om... qiqiqi...

Glodag...

The End

WISATA PANCI

Aneh kan nama objek wisata di Taman Dayu, Pandaan, ini. Boleh percaya boleh tidak, tempat ini nyaris tak pernah sepi pengunjung, terutama di akhir pekan. Mereka datang bermobil, bahkan naik bus!

Lalu apa kekhususannya? Ya panci itu, bersama teman-temannya. Segala macam ukuran panci, berbagai macam fungsi, dari yang mini sampai yang jumbo.

Perlengkapan dapur lainnya baik dari kayu maupun logam juga tersedia, semuanya dengan harga miring. Rupanya, itulah yang menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Ambilah contoh, satu set pisau dapur --terdiri atas lima ukuran yang berbeda, tertata pada dudukan kayu yang membuatnya rapi dan praktis-- harganya tak sampai Rp 50.000.

Pancinya sendiri dari harga Rp 5.000 hingga Rp 35.000-an, bergantung ukuran dan kualitas. Memang harus pandai-pandai memilih, sebab di balik harga murah ada cacat-cacat kecil yang kadang tak bermasalah.

Namanya harga murah, tetap saja menarik hati pengunjung. Kalau harus sibuk memilih, bukankah itu ciri khas pembelanja kita --cari murah dan bagus.

Kalau aku perhatikan, rata-rata pengunjung berada di sini sekitar satu jam. Pulangnya, selalu bawa tentengan. Maklumlah, ada sepuluhan kios yang menjual barang-barang berbeda.

Lalu... bagaimana mereka bisa jual panci-panci itu dengan harga banting? Rupanya, itu afkiran dari pabrik. Seperti tampak pada foto, drop-dropan barang baru datang dan dipilih para pedagang. Siapa cepat dia dapat, jadi milihnya macam mesin scanner gitulah.

Kalau teman-temannya panci, itu yang aku sulit menebak. Mengapa harganya miring, kualitasnya bagus. Bahkan ada pemanggang yang di TV ditawarkan Rp 500 ribu, di sini hanya dihargai separonya. Bukan barang bekas lho, masih segelan...

Lepas dari itu semua, yang membuat aku angkat topi, pancipun bisa jadi objek wisata. Mereka tidak sungkan memasang brand Wisata Panci! Dan sukses... (*)

Selasa, 08 November 2016

DIBESUK PENGGEMAR


OPNAME, dibezuk salah satu penggemar novelku. Ovy selalu menunggu karya terbaruku. Ia mengoleksi novel-novelku, mulai Gadis Tiyingtali, Cinta Retro, The Newsroom, hingga Menggapai Surga.