Selasa, 07 Februari 2017

TERSENYUMLAH..., BERIKAN SEDEKAHMU



SEJAK Agustus tahun lalu, empat kali sudah aku opname. Pada opname pertama, aku melarang istri memberitahu siapapun, kecuali saudara.

Berdasar opname yang dulu-dulu, aku justru banyak terganggu karena tidak bisa istirahat. Tapi toh opname bulan Agustus itu, banyak pula teman yang membesuk.

Ada yang datang sendiri, berdua, berlima, bahkan rombongan yang pulang arisan, 15-an orang. Wadeuw... ya senyum sajalah walau aku benar-benar ngga bisa ngaso tenang.

Pantes di zaman lampau, suster sangat ketat melarang besuk di luar jam kunjungan yang dibatasi dua jam.

Kalau tahu aku sudah kecapaian, istriku selalu menghibur sambil membelai rambutku. Ia teman setia yang selalu mendampingiku.

Benarkah tindakanku melarang mereka besuk? Suatu ketika aku baca, mengunjungi orang sakit adalah sunnah bagi seorang musim, dan pahala ganjarannya.

Duh... berarti selama ini aku mengganjal niat baik mereka. Astagfirullah... Maka saat opname kali kedua, aku membiarkan teman-teman tahu.

Mereka mau mengunjungi, monggo. Mau kirim doa lewat WhatsApp ya silakan. Tidak merespon apa-apa, ya ngga apa-apa.

Demikian pula opname-opname selanjutnya, termasuk yang kelima pada hari-hari ini. Makin banyak yang mendoakan, Alhamdulillah. Aku tak merasakan capainya karena dengan senyuman semuanya menjadi nyaman.

Yang ingin aku ceritakan, terakhir ini aku berhubungan dekat dengan DR. Aqua Dwipayana, yang justru melakukan silaturahmi mendatangi teman-temannya, orangtua temannya, teman-teman orangtuanya.

Doktor komunikasi lulusan Universitas Pajajaran ini justru menganggap silaturahmi suatu kebutuhan. Bahkan ia membuat buku berjudul "The Power of Silaturahmi" yang sudah cetak 100 ribu eksemplar.

Hasil penjualannya diberikan untuk amal, bahkan memberangkatkan umroh bagi 30-an orang yang dianggap sangat mendambakan Tanah Suci. Ada marbot, seniornya, janda dari gurunya, dan macam pribadi baik yang ia kenal maupun tidak.

Kalau sekarang ia mendedikasikan 85% kehidupannya untuk silaturahmi dan sosial, mengapa dulu aku harus menutup pintu silaturahmi kala opname? Maka aku bersyukur segera menyadari kekeliruanku. Astagfirullah.

Dan bukan ketika opname saja aku buka pintu silaturahmi. Ternyata sudah sejak lama aku lakukan silaturahmi seperti Aqua Dwipayana, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Aku datangi teman-teman senior yang jauh di atas usiaku, teman berhaji dulu di tahun 1996, bahkan jauh-jauh ke Samarinda untuk bertemu keluarga-keluarga yang pernah dekat denganku.

Memang tidak seintens Aqua yang usianya jauh di bawahku, yang tentunya masih trengginas dan penuh semangat.

Namun yang aku selalu senang lakukan setiap bepergian, adalah menyapa siapapun yang bersisipan denganku melalui senyum yang ikhlas.

Selalu aku lakukan baik kepada yang aku kenal maupun tidak, dan hampir semuanya merespon dengan senyuman pula. Tak ada yang menganggap senyumanku nakal, kurang ajar. Subhanallah.

Ketika aku membukakan pintu, dan ternyata di belakangku ada orang yang juga akan lewat, aku tahan pintu sambil mempersilahkan mereka lewat duluan.

Umumnya mereka berterima kasih, paling tidak mengangguk sambil tersenyum. Bahkan anak-anak dengan terbuka mengatakan, "Makacih Om..."

Suatu ketika aku memotivasi temanku untuk sedekah senyuman. Awalnya ia tertawa. Tapi karena ia nyaman melihat orang membalas senyumanku, diam-diam ia ikutan.  Apa yang terjadi?

Bukan dapat balasan senyuman, malah plengosan. Gara-garanya, ia mengucapkan sesuatu yang mungkin kurang berkenan pada yang bersangkutan.

Tidak mengapa.... Anggap itu pelajaran. Senyuman yang ikhlas akan menghasilkan balasan yang ikhlas pula, itu yang aku nasihatkan kepadanya.

Nah... meminjam istilah Aqua Dwipayana, aku lebih pas dengan sebutan "The Power of Senyuman". Dengan keikhlasan, dan semuanya dilakukan lilahi ta Allah, insya Allah hidup ini terasa nyaman.

Senyumlah demi sedekah, Anda akan menikmati sensasinya. (*)

Minggu, 22 Januari 2017

INTERMEZO: PASSWORD

CAFE Seven lagi rame siang itu.
 Jhon, si Joni tuh, lagi cari-cari pelayan untuk tanya password wi-fi. Ngga sabar iapun berdiri menuju kasir.
+ Mbak. Password-nya apa?
- Tanya teman saya (kata si mbak tanpa menoleh karena ia masih sibuk layani pelanggan).

Joni kembali ke tempat duduk sambil ngomel, 'ketus amat!'. Ketika ia sisipan ama pelayan, kembali ia tanya, "Mbak... password-nya apa?"

- Tanya teman saya (kata si pelayan sambil bergegas mengantar pesanan).

Duh! Joni masih bisa sabar. Tapi ketika ia duduk dan pesanan datang, Ia berteriak kencang: Hoi... Teman kamu yang mana? Aku sudah tanya dua teman kamu, dan kamu ini orang yang ketiga!

Si pelayan kaget dan bingung. Untung ada gadis centil duduk deket meja si Joni.

- Sttt... Coba om tulis di kolom password, "Tanya teman saya". Digandeng semua ya Om...
Tulisannya yang digandeng, bukan teman-teman Om... qiqiqi...

Glodag...

The End

WISATA PANCI

Aneh kan nama objek wisata di Taman Dayu, Pandaan, ini. Boleh percaya boleh tidak, tempat ini nyaris tak pernah sepi pengunjung, terutama di akhir pekan. Mereka datang bermobil, bahkan naik bus!

Lalu apa kekhususannya? Ya panci itu, bersama teman-temannya. Segala macam ukuran panci, berbagai macam fungsi, dari yang mini sampai yang jumbo.

Perlengkapan dapur lainnya baik dari kayu maupun logam juga tersedia, semuanya dengan harga miring. Rupanya, itulah yang menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Ambilah contoh, satu set pisau dapur --terdiri atas lima ukuran yang berbeda, tertata pada dudukan kayu yang membuatnya rapi dan praktis-- harganya tak sampai Rp 50.000.

Pancinya sendiri dari harga Rp 5.000 hingga Rp 35.000-an, bergantung ukuran dan kualitas. Memang harus pandai-pandai memilih, sebab di balik harga murah ada cacat-cacat kecil yang kadang tak bermasalah.

Namanya harga murah, tetap saja menarik hati pengunjung. Kalau harus sibuk memilih, bukankah itu ciri khas pembelanja kita --cari murah dan bagus.

Kalau aku perhatikan, rata-rata pengunjung berada di sini sekitar satu jam. Pulangnya, selalu bawa tentengan. Maklumlah, ada sepuluhan kios yang menjual barang-barang berbeda.

Lalu... bagaimana mereka bisa jual panci-panci itu dengan harga banting? Rupanya, itu afkiran dari pabrik. Seperti tampak pada foto, drop-dropan barang baru datang dan dipilih para pedagang. Siapa cepat dia dapat, jadi milihnya macam mesin scanner gitulah.

Kalau teman-temannya panci, itu yang aku sulit menebak. Mengapa harganya miring, kualitasnya bagus. Bahkan ada pemanggang yang di TV ditawarkan Rp 500 ribu, di sini hanya dihargai separonya. Bukan barang bekas lho, masih segelan...

Lepas dari itu semua, yang membuat aku angkat topi, pancipun bisa jadi objek wisata. Mereka tidak sungkan memasang brand Wisata Panci! Dan sukses... (*)

Selasa, 08 November 2016

DIBESUK PENGGEMAR


OPNAME, dibezuk salah satu penggemar novelku. Ovy selalu menunggu karya terbaruku. Ia mengoleksi novel-novelku, mulai Gadis Tiyingtali, Cinta Retro, The Newsroom, hingga Menggapai Surga.

Selasa, 16 Agustus 2016

SAHABAT YANG TELAH PULANG



SEGER WARAS TEDJA SUMINAR

AKU memanggilnya om, om Theedja. Tidak ada pembatas di antara kami kendati beda usia 15-an tahun. Kami akrab-akrab saja sebagai teman, bahkan kerap saling pamer setiap mempunyai sesuatu yang baru. Tapi tolong diartikan yang positif sebab pamer kami adalah saling berbagi pengetahuan.

Misalnya, suatu hari di tahun 70-an, om Thee --suatu ketika kelak namanya diringkas menjadi Tedja-- memamerkan sound system hasil rekayasanya. Di huniannya yang sarat dengan elemen estetika bernuansa seni di sela kecil Jl. Dharmawangsa, ia memperdengarkan musik Bali.

"Yok opo Leng..., enak? Cobak golekono speakere anang endhi? (Gimana Leng..., enak? Coba kamu cari di mana speakernya?) Pertanyaan soal enak tidaknya musik itu, masih relevan sebab ketika itu aku wartawan Majalah Musik Aktuil di Surabaya. Tapi soal mencari speaker... wah nanti dulu.

Ini soal eksperimen yang kami sama-sama menyukainya. Aku mencoba menelisik ke seluruh ruangan dan mencoba menemukan sumber suara. Lima menit berlalu tanpa aku bisa menemukannya.

"Iki lho...," ujar om Te sambil menunjuk ke gentong, patung tembikar, kukusan nasi, dan entah apa lagi yang semuanya dipergunakan untuk menyembunyikan speaker. Penempatan ini aslinya dimaksudkan untuk mendapatkan suara yang maksimal.

Jangan membayangkan salon-speaker sebab pada masa itu barang demikian terbilang mahal. Yang dipasang om Te hanyalah speaker telanjang yang banyak dijual di Pasar Genteng. Melalui olah-penempatan memang menghasilkan suara bass yang okay punya.

Di lain waktu, kita pernah sama-sama pergi ke Hong Kong, dan tidur sekamar. Namun pada siang hari, kita jalan sendiri-sendiri. Pikirku, tentu Om Te punya selera tersendiri, dan aku tentu saja ingin melihat modernnya kota itu.

Ternyata, ketika malam kita berkumpul dan berbagi cerita, apa yang Om Te lihat, apa yang ia makan, bahkan apa yang ia beli, sama dengan apa yang aku lakukan. Bahkan bukan di hari itu, hari-hari kemudian sama saja. Anehnya... tetap aja kita jalan sendiri-sendiri.


COLLECTION ITEM

Tedja Suminar sebenarnya teman ayah aku dalam kelompok pelukis Prabangkara ('60-an) --beranggota Wiwiek Hidayat, Soedibio, Karyono YS. Pada dekade '70-an, sepulang dari Manila, ayah membentuk Puring Art Studio, dan Om Te bergabung bersama Soedibio dan Sedyono. Mereka kerap melukis bersama.

Yang aku suka dari karya Om Te adalah sketsa-sketsanya. Juga cara dia memajang lukisan di huniannya --nanti di akhir cerita aku kisahkan bagaimana bentuk huniannya. Aku mengoleksi beberapa sketsanya, tentu saja sejumlah lukisan cat minyak.

Suatu hari di Ubud --aku duluan tinggal di Bali, kemudian menyusul Om Te dengan memilih tempat di Ubud-- ia menunjukkan karya terbarunya. Aku suka dan memuji karya itu --Garuda Wisnu dengan canang berisi aneka kembang.

"Neg seneng, ya wis jupuken," ujar Om Te dalam bahasa Jawa. Singkat kata, lukisan itu aku bawa pulang. Ternyata kemudian aku tersadar, aku juga punya lukisan senada dengan yang baru aku beli ini.

"Om... ternyata aku punya penyandingnya! Sama-sama lukisan patung Bali, sama-sama ada kembangnya (cuma yang satu kembang kamboja sewarna), dan sama-sama bernuansa coklat! Hanya bedanya, yang satu Om lukis tahun '72, yang satunya tahun '92.

Rupanya ia masih hafal dengan lukisan yang aku maksudkan. Sambil tertawa, ia mengatakan, "Wah... 20 tahun aku ngga maju-maju yo."

Seketika aku salah tingkah, tersinggungkah Om Te? Ternyata tidak, sebab ia mengakui kadang gagasan juga bisa bernostalgia. Duplikasi. Aku lantas juga beri alasan, lukisan lama lebih ekspresif sementara yang baru lebih memperhatikan detail. Yang jelas, keduanya menjadi collection item yang tak mungkin aku lepaskan.

Om Te sendiri kemudian menyibukkan diri dengan proyek lukisannya yang spektakuler. Ia melukis tokoh-tokoh seni budaya Bali lengkap dengan karakter masing-masing. Misalnya, ia melukis pematung I Gusti Nyoman Lempad yang tengah mengerjakan karya patungnya. Suteja Neka dengan museum seni yang dimiliki, atau Ida Bagus Mantra dengan dunia intelektualnya.

Karya-karya itu dikerjakan di kanvas yang cukup besar, konon setelah itu digelar dalam suatu pameran, dan sukses. Aku sendiri tidak lagi mengikuti perkembangan sebab tahun-tahun kemudian  sibuk banget. Kendati demikian, setiap kali ke Bali --aku sudah bermukim di Surabaya-- pasti aku sempatkan mampir bertemu Om Te.


TEPI SAWAH

Untuk menemukan hunian Tedja Suminar di Ubud, tidaklah sulit. Letaknya tak jauh dari Arma Museum. Nama jalannya Raya Nyuh Kuning, dulu lorong kecil yang sekarang sudah menjadi jalan besar. Tak jauh dari pojok jalan, ada perahu tergantung di sisi tembok pagar (Ubud itu dataran tinggi lho).

Begitu masuk halaman, di tengah ada kolam ikan yang tentu saja asri dengan aneka tanamannya. Di sebelah kiri ada pendopo untuk lesehan. Sementara di belakang adalah kediaman Tedja --ketika itu Muntiana Tedja, istrinya, masih bolak-balik Surabaya-Ubud sebab anak mereka Swan dan Lini masih remaja.

Di sebelah kanan terdapat bangunan besar yang berfungsi sebagai galeri. Di tempat ini sesekali berkumpul para pelukis Ubud. Suatu ketika aku hadir bersama mereka. Kebetulan pada hari itu mereka mendatangkan model dilukis bareng. Aku sendiri sibuk jeprat-jepret dengan kamera, ya mengabadikan si model, ya aneka aksi si pelukis. Serulah!

Hunian Tedja menjadi tempat berkumpul seniman-seniman Ubud, baik seniman setempat maupun dari berbagai penjuru kota yang memilih Ubud sebagai tempat berkarya. Ada yang dari Jogja, Jakarta, Bandung, dan satu dua dari Jawa Timur.

Ada pula seniman Belanda yang nyantrik di sana. Nyaris tak pernah sepi hunian ini. Beralasan memang, sebab di tangan Tedja, tempat ini lebih Bali ketimbang studio-studio milik orang Bali. Obsesi Bali memang sudah terbawa sejak Tedja masih menghuni rumahnya di Dharmawangsa, Surabaya.

Sampai suatu ketika, Om Te berkabar pindah hunian. Kejadiannya, hampir bersamaan waktu aku membangun gubug kecilku di lereng gunung Welirang, di sudut desa yang jauh dari hunian penduduk setempat.

Ketika itu aku berlibur ke Ubud, dan dipandu menggunakan handphone. Letaknya kurang lebih di belakang Goa Gajah. Jangan tanya nama desa atau jalannya, sebab aku buta sama sekali dengan lokasi itu. Aku hanya dapat perintah "belok kanan kalau ada tembok panjang, nanti ke kiri, tante aku suruh tunggu di depan."

Tanpa nyasar, aku bisa temukan tempat yang dimaksudkan. Desain rumahnya sedikit modern, dengan teras justru berada di belakang. Tamannya khas Om Tedja, rimbun subur dan sedap dipandang.

Pertama kali masuk ruangan depan, aku langsung teringat gubugku. Di langit-langitnya ada ornamen dedaunan. Aslinya memang daun sungguhan yang diletakkan di dasar dak sebelum dilakukan pengecoran. Setelah kering dan papan besketing diambil, citra dedaunan itu terukir rapi di atas sana. Aku tahu teknik ini sebab aku juga lakukan hal serupa.

Setelah melihat di sekeliling rumah, kami dijamu di teras belakang. Dengan bangga Om Te memamerkan belakang huniannya --yang memang menjadi daya tarik utama dari semuanya itu, yakni hamparan sawah.

Berada sekitar dua meter di bawah teras, terhampar persawahan seluas kurang lebih tiga kali lapangan bola. Bentuknya nyaris persegi, dan memang menjadi spot subur bagi persawahan. Ketika itu umur padi baru sekitar enam minggu, hijau segar nuansa di bawah sana.

"Musim begini yang paling aku senangi. Menyusul nanti waktu padi menguning. Itu sudah aku persiapkan orang-orangan sawah," ujar Om Te sambil menunjuk yang dimaksudkan, yakni orang-orangan pengusir burung.

Dasar seniman, benda itu dipajangi berbagai komponen estetika yang sedap dipandang mata. Selain warna-warni atribut, disk komputer juga dipasang berkerlip memainkan sinar.

"Kalau lagi panen, senang melihatnya. Banyak orang terlibat. Tapi setelah itu, saat-saat yang paling menjengkelkan. Mereka membakar jerami, dan asap kemana-mana. Kami kerap mengungsi dibuatnya," ujar Om Te dalam bahasa Jawa Suroboyoan sambil terkekeh...

Aku dan istriku saling pandang. Kemudian tersenyum, dan hanya kamilah yang tahu komunikasi itu. Bagaimana tidak. Kami selalu menceritakan hal yang sama kepada tamu-tamu kita mana kala mereka berkunjung ke gubug kami di kaki Welirang.

Hunian Om Te nyaris sama dengan gubug kami. Sama-sama persis di tepi sawah, sama-sama punya teras dua tiga meter di atas sawah. Bedanya, gubugku adalah rumah kayu model panggung dengan bangunan batu di ruang bawah. Dan di belakang sana, sejauh mata memandang, persawahan yang tak membosankan.

Jelas dampak asap lebih parah di tempatku, kendati keindahan hijaunya persawahan lebih memukau. Apalagi, kontur sawah menurun bertangga-tangga berbentuk lembah, dengan kesunyisenyapan khas pedesaan. Salah satu ciri Bali yang aku bawa kemari adalah penjor yang menjulang di tepi sawah.

Kami sepakat untuk tidak menceritakan ini kepada Om dan Tante Tedja, sebab masih ada rencana mengajak mereka ke gubugku suatu ketika nanti, dengan harapan mendatangkan surprise. Sayang waktu tak bisa ditahan, Tante Muntiana mendahului kita semua.

Ketika akhirnya Om Te diboyong Swan dan Lini ke Surabaya, rencana mengajak beliau ke kaki Welirang tak kunjung terlaksana. Selain jalan menuju Pandaan sering macet (sebelum tol baru berfungsi), kami juga tidak berani mengajak Om Te pergi jauh ke Pandaan. Kami tidak berani mengambil risiko.

Sampai akhirnya, setahun lampau, aku berkesempatan bercerita tentang gubugku yang senada-seirama dengan hunian Om Te di Ubud sana. Memang sudah tidak ada surprise lagi, tak ada gereget untuk dikisahkan. Bukankah melihat sendiri lebih mudah tercerna ketimbang melalui kata-kata? Lagian, dunia Om Te sekarang kembali ke kampung halaman, Surabaya.

Yang ingin aku sampaikan sebenarnya adalah, banyak nian kesamaan selera antara aku dan Om Te dalam kehidupan ini. Kendati kita berbeda umur, namun tak menghalangi kesukaan bersama dalam berbagai hal.

Sekarang Om Te telah tiada. Masih aku kenang sapaannya setiap kali bertemu, "Seger waras yo Leng". Semoga kau bahagia di alam sana, karyamu akan tetap dikenang. Bagiku, banyak kisah perjalanan kita yang tak mungkin terhembus hilang begitu saja. Selamat jalan Om... (*)

Minggu, 31 Juli 2016

KORANNYA MATI, NAMUN SEMANGAT TAK ADA MATINYA



REUNI lazimnya dilakukan teman sesekolah, atau jamaah yang sama-sama berhaji. Namun kali ini reuni sekaligus HBH diadakan oleh mereka yang dahulu pernah berkarya sekantor.

Uniknya, kantor mereka sekarang sudah tiada. Pemilik melikuidasi perusahaan tersebut pada 2002. Itulah nasib Surabaya Post, koran sore yang terbit sejak 1 April 1953.

Nah, mantan karyawan inilah yang bereuni. Ada yang dulunya berprofesi sebagai wartawan, berkarya di bagian usaha --iklan, pemasaran, keuangan, dll. Mereka membentuk paguyuban eks Surabaya Post.

Merekalah yang pada hari Minggu (31/7-16) lalu, menggelar reuni, sekaligus silaturahim semampang hari raya, bertempat di hotel Kartika Graha, Malang. Yang hadir, lebih dari 80 orang.

Reuni ini tercatat yang ke-12, setelah Surabaya Post tutup 14 tahun lampau. Seperti biasanya, jumlah yang hadir berlimpah. Tidak ada pembatas antara atasan dan bawahan. Semuanya sama rata, bebas bercanda-ria.

Sebagian saja yang masih melanjutkan profesi di perusahaan sejenis. Sebagian lainnya ada yang memilih menjadi lawyer, motivator, pengajar, bekerja di bidang lain, atau wiraswasta. Atau bikin media.

Sementara aku memilih jadi author. Sudah lima novel aku hasilkan. Juga tiga otobiografi, yang aku tulis dengan gaya novel.

Apa kekuatan yang bisa mengikat kami dalam paguyuban yang guyup ini? Kami sendiri nyaris tak pernah tahu, kecuali satu hal: persaudaraan!

Malah sempat terucap di antara kami, meski Surabaya Post mati sejak lama, namun semangat paguyuban eks Surabaya Post tak ada matinya. Mungkin semangat itu pula yang membuat kami tetap eksis dalam tali silaturahim. (*)

* Pada foto, aku bersama mantan sekretaris redaksi, manager iklan, redaktur, sekretaris direksi, dan wartawan.

Kunjungi kami di: exsurabayapost.com

Minggu, 10 Juli 2016

MACET DI HARI LEBARAN



SALAT IED DI JALAN TOL?

BELAJAR dari peristiwa macet panjang dan berjam-jam di Bremix pada Lebaran tahun 2016, solusi apa yang akan dilakukan pada tahun depan?

Bremix --Brebes Exit, plesetan dari Britain Exit (keluarnya Inggris dari Uni-Eropa yang beritanya sedang mendunia itu)-- menjadi masalah yang dikeluhkan banyak orang, bahkan diliput media global.

Diberitakan pula ada korban yang meninggal dunia dalam kemacetan terburuk kali ini, kendati kebenaran informasinya masih diperdebatkan. Kalau benar itu terjadi, sungguh memprihatinkan.

Agar peristiwa serupa tidak terulang, konon jalan tol Jakarta-Brebes segera diperpanjang hingga mencapai Semarang. Dengan demikian, tidak akan terjadi lagi macet panjang di Bremix. 

Betulkah? Pasti, ditanggung pemudik tak lagi terhadang pintu keluar. Tak bakal ada macet panjang yang menyebabkan pemudik kepanasan. Tak ada yang sampai kehabisan BBM. Pendek kata, peristiwa kelabu tempo hari tidak bakal terjadi lagi di Bremix.

Hanya saja, bagaimana nasib Semarang jika rekayasa lalu lintas masih seperti Bremix? Apalagi, ketika jumlah pemudik pun makin bertambah. Bukan tidak mungkin Semarang menjadi Bandung kedua, atau bahkan lebih parah lagi!

Jalan tol memang bukan satu-satunya solusi mudik. Sepanjang apapun, selebar apapun, akan tetap padat ketika musim mudik terjadi. Terlebih jika waktunya bersamaan dengan liburan sekolah.

Marilah kita berempati sejenak. Tengok kota-kota besar di tanah Jawa. Semakin hari, semakin padat saja jalanannya. Malah kota kecil penghubung pun ikutan padat. Kendaraan di mana-mana --ya roda dua, tiga, empat bahkan lebih. 

Ketika kepadatan di kota-kota itu surut pada hari raya, kemana saja kendaraannya? Dikandangkan? Tentu saja tidak. Pemilik membawanya mudik. Jangan berpikir mudik hanya hak warga Jakarta.

Mereka yang di Semarang pergi ke Jombang. Yang ada di Pekalongan boleh jadi ke Lamongan. Atau yang di Cirebon malah ke Bondowoso. Pendek kata, kota asal ditinggalkan untuk melaju memenuhi jalan raya. Termasuk jalur tol. Dan di mana saja!

Sebagus apapun tata kelola jalan tol, termasuk rekayasa lalu lintas jalan konvensional, tahun-tahun ke depan sudah tak nyaman lagi untuk bepergian. 

Bisa-bisa satu ketika kelak, lebaran akan berlangsung di perjalanan. Salat Ied pun terpaksa dilakukan di ruas tol. Pembayangan yang ekstrem, namun siapa tahu benar-benar akan terjadi. Ini Indonesia, Bung! 

Kereta Peluru

Sudah saatnya pemerintah memikirkan pembangun jaringan transportasi lancar dan murah. Frekuensi kereta api diperbanyak.

Misalnya, kereta peluru untuk Jakarta-Surabaya pp yang tiketnya lebih murah dari pada pesawat terbang. Bila perlu dalam sehari enam tujuh kali pemberangkatan.

Kalau pembangunannya masih terkendala waktu, tingkatkanlah yang ada sekarang. Agro Anggrek, misalnya, bisa berangkat setiap jam sekali. Pun demikian kereta-kereta ke jalur lainnya.

Perlu dipikirkan pula ferry dari Tj. Priok ke Tj. Perak dengan pelayanan bintang 5 --baik akomodasi, konsumsi, maupun tempat rekreasinya. Bila diperlukan, ferry ini bisa diteruskan ke Bali atau ke Makassar. Tapi ingat, bintang 5 ya!

Pelayanan bandara --yang para penumpang membayar lho melalui airport tax!-- hendaknya ditingkatkan. Bukan ala kadar yang kini mirip-mirip terminal bus. Frekuensi take off-landing juga perlu dioptimalkan.

Kemudian bebaskan penumpang di seluruh terminal --bandara, stasiun, pelabuhan-- dari keharusan menggunakan "taksi terminal". 

Beri kesempatan pemudik untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan keinginannya. Termasuk layanan taksi berbasis aplikasi, atau taksi argo tanpa batasan.

Tersedia pula "Rent Car", termasuk persewaan motor pada terminal-terminal itu. Agar pemudik bisa meneruskan perjalanan ke kota tujuan yang tak terlalu jauh dari terminal itu.

Masyarakat pun harus siap meninggalkan kebiasaan membawa mudik mobil mereka. Kalau terpaksa membawa sepeda motor, ikutkan saja pada jasa angkutan kereta api atau kapal yang sudah membuka layanan itu sejak beberapa tahun terakhir ini.

Jika semua ini bisa terlaksana, berapa waktu yang terhemat tak harus terbuang percuma di jalan raya? Belum lagi faktor keselamatan. 

Petugas keamanan pun tak harus dikerahkan ke jalan raya. Coba renungkan, berapa kali lebaran mereka tak bisa merayakannya dengan keluarga?

Ini adalah kepedulian bersama. Pemerintah peduli membangun, masyarakat peduli dengan keselamatan bersama. Akhirnya kita sama-sama selamat, tak perlu lagi korban-korban berjatuhan di jalan raya. 

Lebaran yang selamat, meski sekarang masihlah angan-angan. (Yuleng Ben Tallar)