Sekapur
Sirih
Berkarier Tanpa Lupakan Anak
ZAMAN
sudah banyak berubah. Kalau dahulu seorang istri sebagai kanca wingking sudah dianggap ketinggalan zaman, apalagi hari ini.
Justru jamak terlihat keluarga-keluarga muda menyerahkan anaknya ke baby sitter. Atau ke guru pribadi, malah
ke neneknya. Suami istri berlomba mengejar karier sekaligus meraih penghasilan.
Tidak
bisa dipungkiri, itulah fenomena kehidupan di kota besar. Padahal, masalah
pendidikan anak dan keberhasilan karier bagaikan neraca yang seimbang. Keduanya
perlu didapatkan, tak bisa mengorbankan salah satu di antaranya. Terlebih
masalah pendidikan keluarga bagi si kecil yang tidak mungkin diserahkan sepenuhnya
kepada pembantu.
Aku
beruntung hidup dalam zaman yang relatif mudah. Persaingan tidak sekeras
sekarang. Masih banyak pekerjaan yang bisa aku rintis di rumah. Bahkan sampai
detik ini –ketika anak-anakku sudah menjadi orang, bahkan beberapa di antaranya
sudah menikah— sebagian besar waktuku adalah di rumah.
Mulai
membordir, membatik, merancang perhiasan, hingga melukis semua aku kerjakan dalam
studio di rumahku. Termasuk menolong orang, mendoakan sesuai dengan
keinginannya, atau sekadar memberikan nasihat-nasihat. Kalau toh aku pergi,
hanyalah untuk pemasaran dan pameran. Dengan demikian aku masih bisa
memanfaatkan banyak waktuku tanpa perlu membuangnya di jalanan akibat kemacetan
lalu lintas.
Siasat
seperti inilah antara lain yang ingin aku tawarkan sebagai alternatif bagi ibu-ibu
muda agar mereka masih mempunyai cukup waktu untuk buah hatinya. Lakukanlah
pekerjaan di rumah, terutama ketika si kecil masih memerlukan banyak perhatian.
Tentu
tidak semua bisa melakukan seperti ini. Para pengejar karier akan kesulitan
mendapatkan waktu ekstra di luar jam kantor. Belum lagi harus menghadiri
pertemuan dinas, atau jamuan mitra bisnis.
Ini
pula sebabnya, banyak kalangan profesional di negara maju yang kemudian
mengorbankan rumah tangganya. Mereka meninggalkan perkawinan, dan hanya
mengabdi pada kariernya semata. Tampaknya gejala semacam ini mulai tampak
disini, kendati masih secara sporadis.
Aku
tidak mungkin membendung keinginan anak muda untuk berkarier. Yang bisa aku
anjurkan, teruslah berkarya tanpa meninggalkan fungsi wanita sebagai seorang
ibu rumah tangga. Carilah celah-celah yang masih memungkinkan. Tersedia banyak
varian asalkan kita cukup jeli melihatnya.
Apa
yang aku kerjakan, tentunya tidak cocok bagi anak-anak muda sekarang. Namun
setidaknya, bisa menjadi motivasi dalam menumbuhkembangkan inspirasi mereka.
Itulah yang bisa aku harapkan.
Di
zaman mendatang, pemikiran seperti yang aku sampaikan pastilah dianggap cerita
masa lalu. Yang sudah tidak mungkin lagi dilakukan orang. Namun aku percaya,
generasi berikut pasti mendapatkan jalannya dalam mencapai keseimbangan antara
urusan mencari nafkah dan mendidik anak.
Yang
aku khawatirkan, kalau tren yang terjadi di luar negeri justru menggurita di sini.
Kaum wanita berlomba menjadi profesional sejati dengan mengabaikan biduk
perkawinan, sementara kaum prianya kalah bersaing. Coba tengok gejala yang selama
ini terjadi. Untuk kalangan menengah, justru
kaum wanitalah yang memperoleh peluang lebih besar dalam mendapatkan lapangan
pekerjaan.
Mudah-mudahan
kekhawatiranku tidak sampai terjadi. Harapanku, kaum wanita masa depan tetap
menjadi pendamping suami dalam menghasilkan generasi muda tangguh sekaligus
memperkokoh penghasilan rumah tangga. Jadilah keluarga Indonesia yang sakinah,
mawardah, dan warohma. Semoga.
Kebahagiaan yg hakiki bagi org tua dari anaknya ketika memiliki anak yg sholeh sholehah, tdk mudah u menggapai itu semua kecuali dg upaya, bagaikan menggapai pelangi yg pasti tdk mungkin terjadi kecuali dg hati yang bersih, terimakasih Ibu Nana yg mengajarkan ini semua
BalasHapus